The Real Me and The Real Life

Hai. Rasanya sudah sangat lama aku tidak memposting di blog ini. Dan pada kali ini aku akan menceritakan kepada kalian mengenai diriku yang sebenarnya.

Aku Wiwid. Lahir di Kediri. Kedua orang tuaku adalah guru PNS. Aku memiliki dua adik yang saat ini menjalankan pendidikan tingkat SMA nya. Hidupku, yah, sangatlah berliku. Dan aku rasa semua juga memiliki likuan hidup dengan cara yang berbeda.

Berawal dari TK. Masih sangat jelas, dulu ketika TK aku termasuk dalam daftar anak yang di bully, dan ini karena tubuhku yang dari dulu memang cenderung lebih besar dibanding anak yang lain. Aku tidak punya teman pada waktu itu, orang tuaku pun tidak begitu memperhatikanku karena kedua adikku yang masih kecil. By the way, usia adikku hanya berjarak satu tahun, sehingga mengasuh mereka sama halnya dengan mengasuh anak kembar ditambah satu adik yang lain sering sakit dan sering menjalani rawat inap di rumah sakit. Dengan kondisi terbully dan merasa tidak ada yang memperhatikan, akhirnya aku pun sering tidak masuk sekolah. Sampai akhirnya ketika saatnya masuk SD, aku tidak mau masuk kesana dengan alasan, aku tidak ingin bertemu dengan teman - teman itu lagi.

Akhirnya aku pun tetap di TK namun pindah ke TK yang lain. Saat akan masuk ke SD aku pun masih terbayang dengan teman - teman TK ku terdahulu, sehingga aku pun memutuskan untuk masuk ke SD Islam, yang tergolong sekolah baru dan jarang ada siswanya disana.

Semasa SD, hidupku cukup menyenangkan. Aku dikenalkan kepada Allah oleh guru - guru disana. Sekolah hingga jam sore. Prestasi pendidikanku pun menengah, aku tidak termasuk anak yang pintar juga tidak termasuk anak yang bodoh. Kadang nilaiku naik, kadang juga turun. Tapi, pada saat inilah aku sadar bahwa ternyata aku bukanlah orang yang sepenuhnya baik. Aku sering iri akan teman yang memiliki nilai tinggi, dan juga mereka yang gampang memiliki teman, aku juga iri pada teman yang memiliki orang tua yang lebih mampu. Aku iri akan banyak hal, namun, aku tidak mampu untuk menandingi mereka, dan itulah yang membuatku sering merasa depresi.

Lepas dari SD aku lanjut ke jenjang SMP, tempat dimana ibuku mengajar. Awalnya aku ragu dan takut bila teman TK ku akan banyak yang masuk di sekolah ini, dan bila aku tidak bisa punya teman kembali. Namun ternyata tidak, justru di masa SMP inilah aku bertemu dengan banyak teman dan dipercayai oleh mereka (mungkin karena ibuku salah satu guru disini). Di masa sekolah ini aku belajar banyak hal, mulai pertemanan, kesenangan, tanggung jawab dan keberanian dalam berbicara di depan umum. Percaya atau tidak tapi SMP lah masa dimana kejayaanku tumbuh haha. Tapi, di masa ini pula aku membuat kesalahan. Secara tidak sadar, ternyata sifat egois dan sok ku telah membuat teman - temanku terluka dan kecewa. This is the biggest mistake that I've ever had, I'm so sorry and regret it so much, may be for my entire of life.

Pada waktu SMA sebenarnya aku diterima di dua sekolah dimana keduanya memiliki nilai yang baik. Di satu sekolah tersebut aku mendapat peringkat pertama dalam ujian masuk dan yang satunya mendapat peringkat 45 (sepertinya karena terlalu meremehkan). Dan entah kenapa di masa SMA lah semuanya mulai terasa. Terasa bahwa hidup itu tidaklah mudah.

Awalnya tentu tidaklah terasa. Pertemanan dan nilai adalah hal biasa. Tapi kemudian semua jadi semakin rumit saat dimana aku harus memutuskan kuliah dimana. Jawaban awal ketika ditanya mau jadi apa, tentu sama seperti kebanyakan orang "dokter". Namun nyatanya, dalam hati tidaklah demikian. Kondisi keuangan keluarga dan lamanya pendidikan untuk menjadi dokter adalah alasan pertama yang menjadi pertimbangan. Pertimbangan pertama, adik yang nantinya juga harus kuliah. Kedua, pendidikan dokter yang lama membuat saya semakin berpikir, "terus kapan saya bisa menghasilkan uang sendiri?" "kapan saya bisa membantu orang tua secara finansial? memberikan semua yang mereka mau?"

Sehingga, pada akhirnya pun, meski saya mendaftar, belajar dan berdoa kepada Allah (dan karena Allah Maha Tahu apa yang ada dalam hati) akhirnya saya pun tidak bisa masuk ke Fakultas Kedokteran. Sebenarnya, saya sempat berpikir untuk menjadi entrepreneur. Tapi saya terkendala pada modal. Saya paham bahwa bisnis itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dilewati. Terutama keuangan juga pasti banyak yang keluar. Dan dengan kondisi keuangan keluarga yang seperti ini, aku rasa aku tidak boleh egois begitu saja.

Itulah masa down dan depresi pertama saya di dunia ini. Sempat ditawarkan untuk kuliah D3 di ITS namun saya menolak karena bila hanya untuk batu loncatan, kenapa saya harus bayar? Kalaupun ada, aku pengennya yang gratis. Saat masih dalam kondisi down, munculah program D3 ITB yang gratis biaya pendidikannya. Awalnya aku tidak mau, dengan alasan yang sama, untuk apa buang - buang uang bila hanya untuk satu tahun?

Tapi, karena dorongan dari Ibu, akhirnya akupun mengiyakan. Aku mengikuti tesnya dan lolos. Di awal, kupikir, aku hanya akan satu tahun saja disini. Begitu ada pembukaan SNMPTN, maka aku akan keluar. Dan kenyataanya, tidaklah seperti yang dibayangkan. Untuk keluar dari program, kami harus membayar 10 jt/semesternya. Yah, bisa dibayangkan, untuk membayar dua semester, maka aku harus bayar 20 jt. Belum lagi UP untuk masuk universitas baru dan biaya persemester. Maka kembali kuurungkanlah niat untuk keluar dari pendidikan ini.

Tiga tahun berjalan dan aku pun lulus dari ITB. Alhamdulillah...
Disinilah, the real world really appear his face to me. Hidup yang awalnya bakal kukira akan simpel dan mudah, pada kenyataanya tidaklah mudah sama sekali. Begitu lulus, saya belum mendapat pekerjaan. Nganggur dan berkelana kesana kemari, memenuhi panggilan tes kerja yang beragam hasil tesnya. Sempat down dan hopeless dengan melamar di perusahaan apapun yang penting pendidikan saya diterima. Nganggur selama hampir 6 bulan, saya pun diterima di sebuah perusahaan di Jakarta.

Relief? Ya. Harusnya itu yang saya rasakan. Tapi nyatanya tidak. Banyak hal yang tidak sesuai mulai dari jenjang karir dan job desk yang tidak jelas, dan juga gaji yang kata orang sana, tidak akan ada peningkatan gaji di perusahaan itu. Dengan banyak rasa sakit hati, tidak puas dan tertekan ingin nangis rasanya (sekarang mah, udah bingung kenapa dulu merasa seperti itu ya?) saya pun melamar di tempat kerja yang lain dengan harapan tidak sampai dua bulan saya bisa pindah ke tempat kerja yang lain.

Ternyata tidak juga, satu bulan setengah berlalu, dan saya masih belum memiliki pekerjaan pengganti. Sedangkan, di tengah - tengah kerja, saya dipindah di divisi marketing dan saya akan diikutkan workshop. Saya merasa bersalah bila setelah workshop saya akan pergi dan harus ijin paling tidak seminggu sekali bila ada panggilan tes dll. Merasa tidak akan fair bila saya harus pura2 ijin sakit ke perusahaan, akhirnya, saya pun memilih resign dari perusahaan setelah dua bulan bekerja disana. 

Dan sekarang, saya masih mancari kerja. Ada pikiran untuk membuat bisnis kecil di rumah. Masih akan dilakukan, namun hati masih sering bolak balik. Kadang hati yakin dengan pilihan ini, tapi kadang, saya sendiri tidak yakin. Masih meraba akan masa depan, apa yang saya inginkan. Apa yang akan saya dapatkan dan apa yang akan terjadi dalam hidup saya setelah ini.  Hanya saja yang jelas. Hidup ini tidaklah mudah bagi saya. Harapan saya saat ini, hanyalah pada Allah dan impian serta kerja keras saya dalam berusaha. Jauh dalam hati saya yakin saya bisa sukses, menjadi orang yang bermanfaat, membawa orang tua haji, banyak menyantuni anak yatim dan fakir miskin, dan berqurban di idhul adha setiap tahunnya. Itu impian saya. Dan meski belum begitu jelas, saya masih berharap dan berusaha itu akan terwujud dalam waktu dekat ini. Amiin ya Rabb...
Latest